Saturday, October 15, 2011

Indonesian media not honest, not so sincere

I thought the Malaysian and Indonesian media had long established a good relationship based on cooperation, impartial news exchange and mutual understanding. It was just a few weeks ago that Info, Communication and Culture Minister Rais Yatim co-chaired a 'Malindo' media meeting in Acheh to take such a relationship to a new height.

However, the media practitioners in Indonesia still find 'bash-up-Malaysia' as a selling point in their business. To them, any issue that can arouse anti-Malaysia sentiment across their 17,000 islands would add credence to their principles of journalism-for-business.

It is sad to note that the Camar Bulan and Tanjung Datu issue in west Kalimantan is best a spin. They are happy enough to incite their 'easy-to-provoke' citizens to stage a rowdy demonstration at the Malaysian Embassy in Jakarta, threatening its diplomats and staffs and condemning Kuala Lumpur for a crime that never took place.

No matter how much assurances were made by their government - that Malaysia did not grab even a square foot of its land in that territory - its hardliner politicians are still continuing with their undiplomatic assault against Malaysia.

To make matters worse, the Indonesian media seemed to reject explanation given by their ministers and its army chief Laksamana Agus Suhartono on Friday that there was no land grab by Malaysia on any Indonesian region. To their media players, defusing the issue would mean their readers will condemn them as liars.

Ironically, they chose to be liars in protecting their business interest rather than submitting to the spirit of cooperation with their Malaysian counterparts. The code of journalism is not that important anymore.

Agus himself put a blame on the local media for unscrupulous reporting about the issue, that they were the ones who blew it out of context and toying it around to the discontentment of the people.

Not surprisingly, some of the 3 million Indonesians in Malaysia are beginning to show some signs of protest when they grouped up to provoke the locals in Sarawak and parts of the Peninsular. So, the Indonesian media will not be bothered at all should such a provocation turns ugly. Or, perhaps they would like to see both nations enter war!

I have been reading reports by some of the Indonesian media. Most of them did not try to defuse they tension from heightening. Their motive and agenda can be put to question. Where is their honesty and their spirit of Nusantara?

Here are some of their reports:

Tempo Interactive - The House of Representatives' (DPR) Commission I will monitor the border areas in Camar Bulan and Tanjung Datu... Commission head Mahfudz Siddiq said... that the Malaysia border marker had shifted by 3.3km.

Jakarta Globe - Tubagus Hasanudin, a deputy chairman of Commission I from the opposition Indonesian Democratic Party of Struggle (PDI-P), earlier claimed that border markers had been destroyed in Camar Bulan and Tanjung Datu subdistricts in West Kalimantan, and that 1,400 hectares of land could potentially be lost to Malaysia. Lawmakers also said they had received reports of Malaysian border patrol officers evicting Indonesians in the area and groups destroying boundary markers.

Republika - ... dari berbagai permasalahan yang terjadi di wilayah perbatasan yang ada di Kalbar, termasuk di Dusun Camar Bulan, Kabupaten Sambas, diharapkan pemerintah pusat bisa segera melakukan peninjauan kembali dan menolak hasil pengukuran bersama garis batas Negara Indonesia dengan Malaysia yang dibuat pada tahun 1975, serta memperbaharui peta-peta yang telah diukur bersama yang tidak sesuai dengan peta asli peninggalan pemerintah Inggris dan Belanda... Kami selaku pemerintah provinsi dan instansi terkait akan bekerja sama untuk tetap melakukan tindakan penguasaan efektif di OBP Tanjung Datu, Perairan Gosong Niger dan Camar Bulan sebagai wilayah NKRI yang selama ini menjadi polemik dengan Malaysia, agar kasus Simpadan dan Ligitan tidak terulang kembali...

Kompas -Seperti diberitakan, dugaan pencaplokan wilayah Indonesia pertama kali dilontarkan oleh Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin. Mantan sekretaris militer itu menyebut wilayah Camar Bulan berkurang hampir 1.500 hektar dan wilayah Tanjung Datu sepanjang 800 meter garis pantai. Di sana, kata Hasanuddin, Malaysia sudah membangun taman nasional serta budidaya penyu

Liputan6 - Persoalan ini juga menyita perhatian mantan Presiden Megawati Sukarnoputri. Istri Ketua MPR Taufik Kiemas ini menyatakan sudah menjadi kewajiban pemerintah menutup semua batas wilayah Negara Kesatuan RI baik darat, laut, dan udara...

Kompas - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Priyo Budi Santoso mengaku mendapat informasi bahwa tim negosiator yang dikirim untuk membicarakan batas wilayah di Kalimantan Barat mengalah dalam perundingan. Akibatnya, wilayah Indonesia di perbatasan berkurang.

These are only a few. What's more saddening is the fact that former President Megawati Sukarnoputri, who once was dubbed a 'darling' in Malaysia-Indonesia relations, is turning her back on us.

And back to their media, I do not see their sincerity as a friend, not even in honoring their professionalism...

31 comments:

the straits monitor said...

that's what the indon media is all about. they ride on anti-malaysia sentiment, back stabbing us and undermining our effort to foster a good relation with them.

putting the basic principle of journalism aside, they did not bother to check on fact and figure.

their motive is simple - to see hell breaks loose!

penangan said...

salam,

saya rasa satu pertemuan dan perbincangan baru harus diadakan di antara pihak media dua negara. janganlah mana-mana pihak mengeruhkan lagi keadaan.

malaysia dan indonesia serumpun, berkongsi banyak perkara.

saya percaya ini cuma masalah kecil...

Anonymous said...

fuck off laaa!

the malaysian media is of equal bluff!

old BMW said...

in business, there is no rules to follow.

the only principle is - do whatever is necessary to survive!

so, the indonesian media is doing just that.

sorry, bro!

Anonymous said...

Mungkin ini adalah angkara orang sini supaya indon sini naik seh dan buat reformasi kecoh. Negara nanti tak aman.

Hmm. Mungkin.

Anonymous said...

We Borneon are one people. 1 Borneo. It is the outsiders who split us. The day will come when we are united as one country. Boreno Republic.

Anonymous said...

I have not read Malaysian mainstream newspaper for a few year already. Papers like Utusan or New Straits Times are just unbelievablely dishonest and offensive.

Anonymous said...

Sebagai sebuah bangsa Merdeka dan Berdaulat Malaysia perlu membentuk identiti sendiri. Tidak perlulah terlalu memomokkan dan bernostalgia dengan istilah "serumpun" . Indonesia didalam kebejatan ,keboborokan dan Korupsi mencari escapism mudah dan menjadikan Malaysia sebagai "belasahan" utk mengalihkan perhatian rakyat dan ketidakmampuan mereka mengurus sumber.
Masanya telah tiba untuk kita membalas laungan mereka dengan tindakan yang lebih pro aktif iaitu mendahului mereka dalam semua bidang dan meninggalkan mereka jauh kebelakang . Usah dilayan orang berpenyakit gila seperti Media indon. Kita ada banyak kerja perlu dilakukan.
Lagi pun kita juga bermurah hati dan bertanggungjawab untuk mengisi perut 3 juta warga Indon di malaysia yg kita beri atap perlindungan (termasuk keluarga mereka di indon juga). Bangsa yg tinggi nilai akhlak dan budi tidak akan sesekali bertindak seperti "binatang liar' di kedutaan orang. Tindakan mereka is self explain betapa rendahnya budi dan akal mereka (Ahli Politik/ Media dan Demonstarator).Biarkan saja Si Goblok dengan Gobloknya...

lampam jawa said...

media sepatutnya lebih bertanggungjawab, terutama dalam memelihara hubungan baik antara negara.

media indonesia tidaklah seratus peratus bersalah kerana mereka melaporkan apa yang dikatakan oleh ahli PMR.

yang dikesalkan ialah, mereka tidak menyiasat terlebih dahulu fakta yang ada dan tidak merujuk kepada pihak yang berwajib mengenai isu itu.

darma said...

some indonesians consider malaysia as their main enemy. this is very, very regrettable.

along our history, we had never done anything to draw their hatred or whatsoever. the sipadan and ligitan were settled at international court fairly.

they are so easily carried away by small issues to the extent that some of their legislators too love heating it up.

it is a sad development. after many years of friendship, they still underestimate our good intention.

Anonymous said...

its unbelievable to have a newspaper like kompas joining the anti-malaysia bandwagon. even megawati!

Anonymous said...

Saudara Bujai,

Kalau sudah begitu sikap mereka yang lebih mengutamakan keuntungan daripada nilai persahabatan dengan kita, apa yang boleh kita buat lagi!

Untuk berbaik-baik atau untuk bermusuh-musuhan, antara satu dengan lain 'it take two to tanggo'! Tidak akan menjadi kalau datang daripada sebelah pihak sahaja.

Kita sebagai rakyat Malaysia yang rasional dan lebih baik daripada mereka tidak usah buat apa-apa provokasi terhadap mereka. Allah Maha Mengetahui.

Saya pernah terbaca dalam salah satu komen di dunia maya ini juga bahawa setiap kali mereka membuat 'kebusukan' terhadap kita akan terjadi gempa bumi di daerah mereka. Baru baru ini terjadi gempa bumi di Bali pula.

Saya percaya ini adalah satu kebetulan sahaja dan mungkin tidak ada kena mengena dengan pembalasan Allah terhadap perbuatan mereka. Sebabnya negara mereka terletak di lengakaran gempa bumi dunia.

Sepatutnya mereka dan juga kita menginsafi betapa mudahnya Allah memusnahkan segala yang ada di keliling kita. Malangnya ramai yang tidak mengambil iktibar daripada peringatan-peringatan yang telah Allah tunjukkan kepada kita!

Warga Setia

daun lebar said...

there are more than 3 million indonesians in malaysia.

if megawati wants her country to close its doors, its ok.

but what if malaysia takes the same step and send home all the indonesians?

no brain la this woman!

Anonymous said...

indonesia memang salah satu kuasa penjajah suatu masa dahulu. mereka menyerang malaysia, merampas timor timur dan irian jaya.

mereka masih marah sebab sabah dan sarawak memilih untuk menyertai malaysia.

inilah antara puncanya!

lincoln said...

not honest, not sincere and not friendly.

they flare up small issues and blow it out of proportion.

they incite their own people to hate us.

they will never change...

Anonymous said...

jai,

the indonesian media will go on burning this sentiment. it happened many times already, ever since our independence.

their objective is to provoke a war between the two countries. they dont like malaysia for being better than them.

dato mengkudun said...

saya harap malaysia dan indonesia akan terus bekerjasama. kita bangsa serumpun. tidak ada faedahnya bercakaran pasal isu kecil yang boleh diselesaikan di meja rundingan. media perlu lebih bertanggungjawab memelihara hubungan yang baik ini.

Ayah Man said...

I am not sure where does the order to riot,mob and create commotion is coming from? and driven by what particular motive?

What Indonesians can end up to do, sensibly, is to listen to thier authority; thier government.

However, they simply refuse to do so. Could it be that some powerful Malaysian individuals are behind all these or rather have a hand on various disturbing incidents.

Can this be a new form of "trade" or smart exchange of...you know what.

chaupriya said...

compared with our muslim friends in indonesia, the thais who are buddhist are more sincere in keeping up with the good relation with malaysia.

we have border dispute with thailand too but their media never played it up because they observe the spirit of negotiation and goodwill.

anak indon di johor said...

udah la sdr.

usah dibantingkan lagi perkara ini. biarkan aja diplomat kita yang menyelesaikan.

kita seharusnya makin akrab, bukannya berantakan.

sama ada di malaysia mahupun indonesia, kita semuanya bersudara!

Anonymous said...

peace, not war.

seek an amicable solution to this petty issue.

if we tolerate each other, we can prosper together.

insya-allah

umbut pisang said...

pemerintah indonesia sendiri kadangkala berlaku tidak adil kepada kita.

kerana itulah pihak medianya senang hati membelasah malaysia!

Anonymous said...

not a fair comment.

some malaysian media sometimes do hit out at the indonesians.

relax lor, bro.

no issue here, actually

malindo III said...

kepada rakan2 indonesia yang disayangi dan dihormati.

kita punya tugas besar dalam memperkukuhkan hubungan dua hala kerana nikmatnya kita kecapi bersama.

perkara serta isu kecil sebegini tidak seharuskan menjarakkan hubungan kita.

fikirkanlah demi kebaikan bersama

indigo said...

they bashed us up, and we did nothing.

they undermined us, and we did nothing.

they jeered at us, and we did nothing.

they attacked our embassy, and we did nothing.

they are not a good friend but we still want to woo them!

Anonymous said...

ini namanya penjajahan minda ke atas rakyat indonesia, agar membenci malaysia dan mewujudkan rasa ingin memusnahkan hubungan baik yang sedia ada...

inikah peranan sebenar media mereka?

wak kermin said...

waduhhhh.... gawat nih!

kita serumpun, seagama. jangan ribut ribut dong!

Anonymous said...

Make the lie big, make it simple, keep saying it, and eventually they will believe it.
Adolf Hitler

Anonymous said...

There's a hidden hand in this latest flare up...beware!! No prize guessing whose hand it is...

Anonymous said...

Saudara,

Orang yang rendah mentaliti, kurang cerdik serta keyakinan dan berasa diri terpinggir akan menyalahkan orang lain atas segalanya, termasuk kekurangan diri sendiri.

Indonesia, dalam isu ini, menyalahkan Malaysia atas isu yang tidak pernah dimulakan oleh Malaysia. Menyalahkan Malaysia kerana mendapat pulau Sipadan dan Ligitan sebenarnya mendedahkan kebodohan diri sendiri kerana bukan Malaysia yang datang menjajah tanah Indonesia, akan tetapi perkara tersebut diputuskan oleh Mahkamah Antarabangsa. Perkara itu diputuskan pleh Mahkamah Antarabangsa kerana Malaysia punya hak ke atas kawasan tersebut. Ta[i Malaysia tidak pernah merampas apa-apa, tidak seperti Indonesia merampas hak warga di Timur Timor dan Irian. Siapa bangsa penindas?

Dalam strata politik Indonesia, jelas bahawa mereka mempunyai dasar politik yang caca merba, dengan Pemerintah lemah untuk bertindak dan oposisi tidak mempunyai calon pemimpin yang berkaliber. Megawati? Beliaupun dijatuhkan oleh rakyatnya sendiri. Naik jadi Presiden pun kerana menjatuhkan Gus Dur, dan beliau sendiri tidak pernah menang PilPres. Taufik Kiemas? Ahh..mengharapkan popularitas isteri sahaja. Rata-rata ahli politik, terutamanya opisisi di Indonesia sebenarnya mencari populariti untuk "cari makan", keran wang korupsi masih belum cukup untuk mengenyangkan perut yang membuncit dengan dosa.

Pers di Indonesia? Semuanya mau survive. Mahu pemberitaan yang baik? Amplot dong. amplot (envelop - sampul surat) yang penuh berisi dengan nota-nota berwajah Pak Karno dan Pak Hatta. Mana ada kebebesan media di Indonesia. Kebebeasan yang ada adalah kebebasan mau cari makan aja.

Memang sebagai kebetulan, setiap kali ada isu bohongan terhadap Malaysia, pasti Indonesia akan menerima bencana alam. Udah-udahlah Indon, bertaubat aja....

Anonymous said...

Banyak yang mengatakan ini perkara kecil, tapi dari perkara kecil ini nampak bagaimana lemahnya kepimpinan kerajaan indonesia mentadbir.Kalau diumpamakan seorang bapa, ia tidak dapat mengawal anaknya dari menyakiti jirannya...apatah lagi untuk mengurus sumber2 yanag ada dinegaranya..berubahlah indonesia..ayuh! terus maju dan makmur..